———————————————


Sumarmi memang tidak setenar selebritis, namun perempuan ini boleh disebut sebagai perempuan ‘perkasa’ yang gigih memperjuangkan kehidupan keluargnya yang tidak sedikit itu. Sekiranya filosofi banyak anak banyak rejeki itulah yang mendasari Sumarni terus melangkah maju menapaki kehidupannya bersama Sukir Citro Sumarto.


Ketika LENSAINDONESIA.COM berkunjung ke rumahnya di Dukuh Plosorejo, Desa Guwarejo, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Jateng, wajah Sumarmi masih kelihatan segar bugar, dan ramah. Dengan lancar menceritakan riwayat hidupnya, meski kini dia sudah berusia 74 tahun.


Sumarni saat ini memang sudah tidak seaktif ketika usia 50 tahun lalu. Dulu dia gigih keluar dari rumah pada pagi menjelang subuh untuk berdagang beras lintas Jawa Tengah – Jawa Timur. Untuk mencari nafkah dia tidak jarang sampai 2 – 3 hari. Maklum saja, Sumarni harus mengurus dagangan berasnya dalam partai besar.


Bisa dibayangkan begitu repotnya dia. Padahal sejak setahun pernikahannya dengan Sukir Citro Sumarto yang menjadi pegawai negeri sipil Dinas Koperasi Sragen, tahun 1950 dia harus melahirkan anak-anaknya sampai 26 kali.


“Hampir setiap tahun saya melahirkan hingga sampai 26 kali. Sayangnya anak-anak yang sampai sekarang masih hidup hanya 17 orang saja,” katanya mengawali kisahnya.


Perempuan yang dilahirkan pada 10 Desember 1936 ini, mengaku biasa saja menjalani kehidupan di dunia ini, dengan catatan tidak perlu dibuat cemas dan kesal. Diakui perempuan ini, memang dalam hidup itu banyak tantangan, tapi jika dilakukan dengan hati yang baik, tentu semua masalah akan berlalu.


“Kehidupan keluarga saya tidak biasa. Saya dan suami harus menghidupi 17 anak, itu tidak mudah,” katanya.


Melahirkan 26 anak-anak tiap tahun tentu bukan hal mudah bagi Sumarni. Di satu sisi, dia harus menjaga kebugaran tubuhnya. Belum lagi dia harus membantu suaminya mencarikan nafkah untuk menghidupi mereka.


“Untuk menjaga kesehatan, saya hanya banyak minum air putih, makan sayuran, menerima dan sabar apa yang diberikan Tuhan kepada diri dan keluarganya” lanjut Sumarmi yang masih nampak sisa-sisa kesintalan tubuhnya itu.


Tentu saja sebagai ibu dari 17 anak-anaknya yang tersisa, Sumarni tidak bisa melakukannya sendirian. Mengurus seorang anak saja, bagi Sumarni memang berat. Apalagi ini, sampai 26 anak dan kendati yang tersisa hanya 17 orang saja.


Karena itu Sumarni mengambil tiga orang pembantu untuk membantunya mengurus anak-anak. Pembantu-pembantunya ini diberi tugas khusus. Mereka tidak menjadi pembantu biasa, melainkan juga menjadi pembantu super.


Dalam mengurus anak-anaknya, sebagian besar tugas tidak ditanganinya secara utuh, hanya ketika dia berada di rumah saja pekerjaan memomong anak-anak dilakoninya.


“Saya masih momong anak, itu jika di rumah. Tapi untuk tugas memandikan, mencuci popok bayi, dan mengganti pakaian, tetap saya serahkan kepada mereka,” tuturnya.


Sumarmi sendiri mengaku selama 3 bulan setelah melahirkan bayinya, dia memberikan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif selanjutnya diteruskan dengan susu kaleng. Meski begitu, memberi ASI dirasa Sumarni cukup berat. Bagaimana tidak, ketika satu anaknya diberi ASI, kadang anak lainnya juga kepengin merasakan ASI juga. Kadang pula Sumarni membagi ASI untuk anak-anaknya.


“Tidak mudah memberi ASI mereka. Kadang saya harus sembunyi-sembunyi memberi ASI agar tidak ketahuan anak-anak saya yang lain. Soalnya kalau mereka tahu saya memberi ASI, mereka merengek minta juga,” ujar Sumarni.


Berita seorang perempuan melahirkan 26 anak, kisah sudah tersebar di berbagai daerah, dari mulai Sragen, Kranganyar, Ngawi, Bogor, hingga Jakarta. Saat itulah cerita Sumarni terdengar oleh MURI.


Direktur Utama MURI Jaya Suprana tertarik dengan kelangkaan perempuan Sumarmi ini. Maka pada Oktober 1999 Sumarmi dinobatkan sebagai perempuan yang paling banyak mengalami kehamilan. Dengan rincian anak yang dilahirkan Sumarmi 17 anak hidup hingga dewasa, 8 kali mmengalami keguguran dan 1 anak meninggal setelah usianya balita.


Sebagai wanita ‘perkasa’, pada saat Gus Dur menjabat sebagai presiden RI, Sumarmi pernah dipanggil di Istana Negara. Di sana dia berkumpul dan bertemu dengan orang-orang hebat dan langka versi MURI. Bersama Gus Dur mereka juga diberi ‘hadiah’ khusus berupa barang tertentu, begitu juga orang-oarang yang memiliki keunikan lainnya, masing-masing juga diberi ‘hadiah’ oleh Gus Dur.